Pemuda Di Tengah Keramaian Pasar
Langkahku terhenti, terjebak di tengah lautan manusia. Panas matahari pagi serasa membakar kulit, bercampur dengan udara lembab yang pekat dengan ribuan aroma. Aku berada tepat di jantung pasar, sebuah pusaran kehidupan yang tak pernah diam. Di sebelah kananku, seorang ibu dengan suara melengking sedang menawar harga cabai, tangannya lincah menunjuk tumpukan merah menyala itu. Di sisi kiriku, teriakan penjual ikan bersahutan, mempromosikan dagangannya yang masih segar dan mengkilap di atas hamparan es. Mataku berkeliling, mencoba menangkap semuanya—warna-warni tumpukan buah mangga dan rambutan, kontras dengan kusamnya terpal-terpal lapak yang melindungi dari sengatan matahari. Aroma tajam dari bumbu dan rempah—kunyit, jahe, dan ketumbar—menusuk hidung, sesaat kemudian disusul bau sedikit amis dari lapak ikan di seberang. Namun, semua aroma itu kalah oleh wangi sate ayam yang dibakar di atas arang, asapnya mengepul dan menggoda selera, membuat perutku yang kosong bergejolak. Aku harus s...